Jumat, 21 Oktober 2016

Jarang Ziarah ke Makam Orang Tua? Kisah Ini Akan Membuat Anda Tercengang | Dakwah Media Islam

Dakwah media islam  - Ini kisah persahabatan antara �Auf bin Malik al-Anshari dengan as-Sha�ab bin Jatstsamah al-Muhajiri. Saking akrabnya, keduanya saling bertutur, siapa yang meninggal duluan maka yang meninggal belakangan akan datang untuk menziarahi. Taqdirnya, as-Sha�ab bin Jatstsamah al-Muhajiri meninggal lebih dulu.






Berselang lama setelah kepergian ash-Sha�ab, ia hadir dalam mimpi Auf bin Malik. Kata ash-Sha�ab yang sudah meninggal, �Mengapa engkau terlambat?�

�Bukan kita yang menentukan segala sesuatu. Semuanya ada dalam Kekuasaan Allah Ta�ala. Jika Dia Menghendaki terlepas, maka terlepaslah. Dan jika Dia Menghendaki terbelenggu, maka terbelenggulah.� jawab �Auf bin Malik.

Kemudian, �Auf bin Malik bertanya kepada sahabatnya itu, �Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa merasakan kehadiran orang hidup yang menziarahinya?�

�Ya.� Jawab ash-Sha�ab, �Ini buktinya.� Ash-Sha�ab menunjukkan warna hitam di salah satu lututnya.


�Mengapa lututmu berwarna sehitam itu?� tanya �Auf bin Malik.

�Aku memiliki hutang sepuluh dinar kepada seorang Yahudi. Aku belum sempat membayar hutangku kepadanya.� tutur ash-Sha�ab.

�Apakah anakmu mengetahui hutangmu itu?� tanya �Auf bin Malik.

�Tidak ada yang mengetahuinya.� jawab ash-Sha�ab.
�Pergilah ke rumahku. Ambilkan uang yang aku simpan di dinding batu.� pungkas as-Sha�ab di dalam mimpi.

Tak lama setelah itu, �Auf bin Malik terbangun. Siang harinya, ia bergegas ke rumah sahabatnya itu, mencari dinding yang menggunakan batu, mengambil uang dan membayarkannya kepada si Yahudi. Jumlahnya persis sepuluh dinar.

Sesampainya �Auf bin Malik di rumah si Yahudi seraya membawa uang untuk melunasi hutang ash-Sha�ab, si Yahudi terbelalak. �Demi Zat yang mengutus Musa dengan kebenaran. Sungguh, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini (kecuali aku dan ash-Sha�ab bin Jatstsamah).� ujar si Yahudi.

***

Kawan, apakah ada orang tua kita yang sudah meninggal dunia? Apakah ada sahabat dekat dalam iman yang sudah dipanggil Allah Ta�ala? Adakah guru, ustadz, kiyai, atau siapa pun-yang berjasa dalam hidup kita-yang lebih dulu menghadap Allah Ta�ala?

Jika sudah, seberapa sering kita mengunjunginya? Berapa kuantitas kita dalam menziarahinya? Jika tidak pernah apalagi anti-ziarah, kisah ini seharusnya menyadarkan Anda!

Wallahu a�lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar